DI TENGAH RIUH RUPIAH DAN TEKANAN HIDUP
DI TENGAH RIUH RUPIAH DAN TEKANAN HIDUP
(Mengapa Mujahadah Kubro Jombang Menjadi Ruang Rehat Spiritual yang Kita Butuhkan?)
Oleh:
Dr. H. Susilo Surahman, S.Ag., M.Pd., MCE.
(Kabid. Organisasi DPW DIY PSWJ)
Di tengah hantaman badai ekonomi nasional yang kian mencekik belakangan ini—mulai dari melemahnya nilai tukar rupiah, lonjakan harga kebutuhan pokok, hingga ketidakpastian lapangan kerja yang membayangi kuartal kedua tahun 2026—masyarakat Indonesia hari ini tidak hanya sedang mengalami krisis finansial, melainkan juga krisis ketenangan jiwa (spiritual fatigue). Riuh rendah keluhan di media sosial dan ruang publik menjadi bukti nyata bahwa masyarakat sedang kelelahan secara mental. Di titik ini, solusi atas karut-marut bangsa tidak boleh melulu dibebankan pada kebijakan materiil atau angka-angka statistik di atas kertas. Bangsa ini secara kolektif sedang membutuhkan sebuah "ruang rehat spiritual" untuk memulihkan resonansi batin yang retak, dan momentum Mujahadah Kubro Wahidiyah ke-63 di Jombang hadir sebagai jawaban sosiologis sekaligus spiritual yang tepat atas kegelisahan tersebut.
Secara sosiologis, tekanan ekonomi yang berkepanjangan cenderung melahirkan keputusasaan massal dan mengikis modal sosial (social capital) berupa rasa saling percaya, kesabaran, dan ketabahan. Ketika manusia modern dipaksa bertumpu hanya pada kalkulasi matematis ekonomi yang sering kali menemui jalan buntu, mereka rentan kehilangan pegangan hidup dan terjebak dalam kecemasan akut. Di sinilah pendekatan laku spiritual seperti ajaran "Fafirruu Ilallah" (Berlarilah kembali kepada Allah) menemukan urgensinya. Berlari kembali kepada Sang Pencipta bukan berarti melarikan diri dari realitas kehidupan atau bersikap pasif (eskapisme). Sebaliknya, ini adalah sebuah ikhtiar sadar untuk menjernihkan pikiran, mengukur ulang batas kemampuan makhluk, dan memompa kembali daya tahan psikologis (resilience) masyarakat agar batin mereka tidak ikut tumbang oleh depresi ekonomi.
Fakta di lapangan selalu menunjukkan bahwa masyarakat akan mencari ruang kompensasi spiritual saat didera ketidakpastian lahiriah. Di tengah awan mendung kecemasan publik saat ini, puluhan ribu jemaah dan Pengurus Penyiar Sholawat Wahidiyah (PSW) dari berbagai penjuru tanah air justru bersiap menyatukan langkah menuju Pesantren Attadzib, Rejoagung, Ngoro, Jombang pada 25–29 Juni 2026 M yang bertepatan dengan 10–14 Muharrom 1448 H.
Melalui agenda akbar Mujahadah Kubro ini, mereka tidak sekadar berkumpul untuk merayakan lahirnya Sholawat Wahidiyah ke-63 atau menyelenggarakan Haul ke-71 Mbah KH. Mohammad Ma'roef semata. Lebih dalam dari itu, manifesto kegiatan ini menyasar langsung pada akar masalah bangsa lewat tajuk: "Do'a Bersama Bagi Keselamatan Bangsa, Umat, Masyarakat Jami'al Alamin". Seruan untuk mengawali momentum ini dengan "Mujahadah Penyongsongan" di daerah masing-masing membuktikan bahwa gerakan batin ini bergerak secara terstruktur, masif, dan memiliki daya rekat sosial yang kuat untuk mengikat empati antar-sesama warga yang sedang sama-sama berjuang menghadapi masa sulit.
Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari angka Produk Domestik Buruto (PDB) atau kokohnya nilai tukar mata uang, melainkan dari kedalaman spiritualitas dan soliditas batiniah masyarakatnya. Kebijakan ekonomi sedahsyat apa pun akan pincang jika manusianya berjalan dengan jiwa yang rapuh, kosong, dan penuh kepanikan.
Oleh karena itu, Mujahadah Kubro Wahidiyah di Jombang harus dipandang lebih luas dari sekadar ritual internal keagamaan; ia adalah sebuah peristiwa kebudayaan dan spiritual yang esensial—sebuah oase di mana egoisme pribadi dilebur menjadi doa keselamatan kolektif demi kepentingan bangsa. Menghadiri atau menyukseskan agenda ini, baik secara langsung di pusat kegiatan maupun melalui getaran doa mujahadah di rumah masing-masing, adalah langkah nyata kita untuk merawat warisan batin para leluhur sekaligus mengetuk pintu langit bersama-sama agar badai krisis ini segera berlalu, digantikan dengan kedamaian dan keberkahan yang melimpah.
Komentar
Posting Komentar